Cari Blog Ini

Minggu, 18 Juli 2010

PEREMPUAN YANG AKU CINTA

Pukul empat pagi. Udara dingin menusuk tulang-tulangku. Lelah sekali rasanya. Namun lelah itu hilang ketika aku ingat dia. Ya, dia. perempuan yang sangat aku cinta, yang selama tiga tahun ini menemaniku. Walaupun dia tidak didekatku, namun perasaan cintanya terhadapku dapat aku rasakan.

Hari ini aku akan menemuinya. Dia memintaku datang di hari ulang tahunnya. Kebetulan ada tiga hari libur berturut-turut sehingga aku bisa datang. Tidak terasa aku sudah sampai di tempat yang dia janjikan. Sengaja aku tidak memberitahunya. Aku ingin mengejutkannya pagi itu.

Aku mengetuk pintunya. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Dia masih terlihat kusut, tampaknya ia baru saja bangun. Tapi aku menyukai pemandangan itu.
"kok gak telepon dulu?" tanyanya, Aku menjawabnya dengan kecupan dikeningnya.
"Kejutan sayang. Kakak kangen banget" ujarku lalu memeluknya. Dia tersenyum sambil menatapku. Aku kembali mengecup keningnya. Tapi aku merasa dia agak berubah. Entahlah. Dia berbeda. Sepertinya dia tidak merindukanku.
"Adek kayanya gak kangen ya sama kakak?" tanyaku.
"Kok bilang gitu? Adek kangen juga kok" jawabnya.
"Nanti adek mau cerita sama kakak, tapi nanti"
"Emang mau cerita apa kok ditunda-tunda sayang?"
"Gak apa-apa, sekarang kan kakak masih capek" ujarnya sambil memelukku.
Saat itu aku tidak memikirkan sesuatu yang buruk. Mungkin dia ingin membicarakan rencana pernikahan kami. Yah aku mencoba berpikir positif saat itu. Aku memeluknya erat.

Pagi itu setelah sarapan dan beristirahat, dia langsung mengajakku ke pantai. tempat favorit kami. Senang sekali rasanya. Siang itu kami makan siang dipinggir pantai. Aku tak bosan-bosannya mendengarkan dan menikmati wajahnya. Sepanjang siang itu kami berlarian sepanjang pantai. Dan aku  tidak melepaskan pandanganku sedikitpun dari dirinya.

Kami duduk dipinggir pantai ketika matahri mulai tenggelam.
"Adek capek kak"
"Kakak juga sayang, tapi kakak seneng banget bisa sama-sama adek"
Dia tersenyum. Aku mengecup keningnya. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku memeluknya erat. Tiba-tiba handphone miliknya berdering.
"Bunyi tuh hpnya sayang"ujarku.
"Biarin aja, adek males angkat telepon"
"kenapa?siapa tau penting. Angkat aja sayang"
Dia tidak menjawab dan terus saja memelukku. Namun ponsel miliknya juga tidak berhenti berdering. Sampai akhirnya dia mematikan ponselnya.
"Kok dimatiin sayang?"
"adek capek bunyi terus, udah yuk kita kedalem aja" ujarnya sambil melepaskan pelukannya dan berjalan menuju resor yang sudah dia pesan. Aku mengikutinya lalu menggandeng tangannya. Dan aku belum merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Makan malam di tepi pantai. Saat-saat seperti ini memang sangat indah. Rasanya aku tidak ingin malam itu berakhir. Setelah makan malam kami berjalan-jalan ke dermaga. Dia berkali-kali membidikkan kamera ponselnya kepadaku. dan berkali-kali pula ponselnya berdering. Namun sepertinya ia tidak mneghiraukan dan akupun tidak menaruh curiga pada dering ponsel itu.

Kami kembali ke kamar setelah lelah berjalan. Kami sama-sama lelah. Aku langsung merebahkan diri. Ia berbaring disebelahku sambil membelai rambutku dan sesekali menciumi keningku. Aku merasa sangat nyaman dan akhirnya tertidur.

Keesokan harinya kami menghabiskan waktu bersama-sama lagi. Melakukan apapun yang kami inginkan. Dan aku sangat bahagia bisa menghabiskan hari bersama perempuan yang sangat aku cinta. Besok pagi aku harus kembali ke tempat kerjaku dan aku tidak ingin menyia-nyiakan hari ini. Setelah makan malam  aku baru teringat janjinya.
"Adek katanya mau cerita, cerita apa sayang?"tanyaku.
Dia menatapku sejenak. Dan aku melihat wajahnya berubah. Sedih bercampur takut. Namun sepertinya ia mencoba tegar. Aku masih menanti jawabanya. Dan masih berusaha setenang mungkin walapun hatiku galau.
"Adek pernah dugem lho kak" Ia mengalihkan pandangannya.
Aku berusaha menahan diri dan membiarkannya bicara. Namun tidak ada kata-kata lagi yang keluar.
"terus?"tanyaku setelah dia hanya terdiam.
Ia menatapku lagi, lalu menunduk. Dan perasaanku semakin tidak menentu.
"Terus apa sayang?"
aku melihat matanya mulai basah. Aku memegang tangannya.
"adek minum, trus ML sama temen adek" Air matanya mengalir deras.
Aku melepaskan tanganku.
"Siapa?"tanyaku
"Siapa sayang?"nadaku meninggi.
"Dani."katanya lirih.
"Dan sekarang adek hamil kak"
Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Entah apa rasanya. Hancur. Mungkun lebih dari hancur. Dia, Perempuan yang selama ini aku puja ternyata menghianatiku.
"Kenapa sayang?? Adek gila! kakak ga pernah menghianati adek!!"suaraku meninggi
"Kenapa??!!"
Dia menangis. Aku pun menangis. Aku tinggalkan dia.

Aku berusaha menenangkan diri. Namun belum berhasil. Seluruh tubuhku lemas. Aku merasa kehilangan semuanya. Aku bingung. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapi semuanya. Aku sangat mencintainya. Tapi dia bahkan tega berbuat itu kepadaku. dan siapa laki-laki itu? yang telah menyentuhnya? Aku bahkan belum pernah melakukan itu. Meskipun kami sering bersama-sama. Aku benar-benar menjaganya. tapi mengapa?? Aku benar-benar kehilangan kewarasan sepertinya. aku menangis sejadinya. Menumpahkan semuanya.

Aku ingin segera pergi dari tempat itu. Aku membereskan pakaianku tanpa melihat kepadanya. Namun mataku tak sanggup untuk tidak melihatnya. Dia masih menangis. Dan aku tidak dapat membiarkan ia menangis. Aku dekati dia lalu kupeluk tubuhnya.
"Maafin adek kak"katanya lirih.
"Kakak berhak dapet yag lebih baik dari adek". Maafin adek."
Aku meleapskan pelukanku.
"Trus adek mau gimana sekarang?"
"Belum tau. Yang jelas adek ga menikah dan adek ga akan menggugurkan kandungan adek"
"Laki-laki itu ga mau menikahi adek?"
Ia hanya menatapku sambil menangis.
"Siapa sih dek? tunjukin dimana rumahnya??!! Kurang ajar banget!!"
"Yang dari kemarin terus-terusan hubungin adek??"
"Bukan. Itu dari orang yang mau aborsiin adek.Tapi adek batalin semua. Udah tinggalin adek.."
Aku terdiam.
"Kakak... udah. Ini semua salah adek. Dan adek harus menanggung ini. Adek ga mau buat semua jadi lebih kacau. Adek siap sama semuanya kak."
Aku hanya bisa menatapnya. Diam. Dan tidak mengerti harus berbuat apa.

Malam itu kami tidak tidur. Hanya diam dan menangis. Harusnya malam ini menjadi malam yang indah. tapi ternyata menjadi malam yang penuh luka.

Aku menatanya. Aku tidak mungkin meninggalkannya, namun aku juga tidak bisa menikahinya. naluriku bertarung. Keegoisanku dan rasa cintaku bertengkar hebat.

Aku lihat jam di dinding. pukul empat pagi. Dia masih terdiam namun tidak lagi menangis. Aku genggam tangannya. Dia masih menunduk.
"Sayang, kakak akan menikahi adek. secepatnya."
Ia menatapku, air mataanya mengalir deras.
 "ga kakak... adek sendiri aja"
"Kakak sudah memutuskan sayang... Kakak ga akan meninggalkan adek. kakak akan menanggung semuanya. Kakak akan melupakan semua masa lalu kita. Memulai yang baru yang harus kita jalin dengan kejujuran dan kesetiaan."
Air matanya bertambah deras.
"Adek ga pantes buat kakak, tinggalin adek"
"Kakak sangat mencintai adek. Apapun keadaan adek, kakak terima. Tiap orang pernah berbuat salah sayang. Kakak yakin adek mau berubah. Kita menikah sayang. Secepatnya."
Aku memeluknya erat. Ya, aku sudah memutuskan. Aku akan menikahinya. Tak peduli keadaannya.

Dua minggu setelah kejadian itu. Aku cuti dari pekerjaanku. Lalu aku segera melamarnya. dan seminggu kemudian pernikahan sederhana itupun terlaksana. Aku lega. Dia tetap menjadi perempuan yang aku cinta selamanya.