Cari Blog Ini

Kamis, 14 Januari 2016

Sweetest Sin

Baca sambil denger lagunya biar reseppppp..kalo ada yang gak cocok,gak pantes dll mohon dimaafkan :))


Pukul delapan malam. Seharusnya jemputanku sudah datang. Langit mendung. Atau disana sudah turun salju? Yah terserah. Aku ingin bersantai,jauh dari hiruk pikuk dan segala urusan. Mungkin aku butuh sedikit kopi. Caffe Latte. Aku memesan ke pelayan pria yang sebenarnya cukup tampan dengan mata birunya.

Dulu tempat ini begitu sering aku datangi. Bersama David. Ah David.. It's a long time. Terakhir kali kita bertemu ketika dia pergi tanpa berkata-kata. Yah memang it's my fault. Aku sedikit bersenang-senang dan akhirnya kehilangan kendali dan akhirnya aku bercinta dengan Frances. David tau. Tidak ada perang,dia hanya pergi bahkan sebelum aku minta maaf. Dan sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dia lagi. Dan sejak itu pula aku merasa selalu bersalah kepadanya. Hubunganku tidak pernah berjalan lama. Terakhir dengan Dani hanya bertahan beberapa bulan saja. Tapi paling tidak aku masih berhubungan baik dengan mereka,kecuali David. Terakhir kali aku dengar dia sudah bercerai dengan istrinya. 

'Hai"
Suara itu membuyarkan pikiranku tentang David.  Aku menoleh dan..aku tidak percaya. David bersiri disana,tersenyum. Aku mengedipkan mata,sekali lagi. Ya.. itu David dan ini bukan mimpi. Aku tersenyum. 
"Hai...sudah lama sekali..." Aku sedikit gugup,entah kenapa.
"Kamu mau minum..?"Tanyaku
"Gak, aku baru aja minum. Kamu gak liat aku?"
Aku menggeleng.
"Aku duduk disana" dia menunjuk ke sudut ruangan.
"Oh.."
"Lama sekali kita gak ketemu David. Apa kabar?"
" Baik. Kamu terlihat luar biasa"
"Wow,berlebihan kamu!"
Dia tertawa.
"Lagi ngapain disini? Kayaknya sebentar lagi salju turun" katanya
"Itu masalahnya. Dari tadi aku nunggu dijemput tapi gak tau kenapa si sopir belum muncul juga"
"Aku bisa anterin kamu. Daripada disini sendirian. Mau?"
"Oke.Gak ngerepotin kan?"
"Nanti aku minta bayaran kalo ngerasa direpotin" ujarnya sambil tertawa.
Kami berdua bergegas menuju mobilnya sementara salju mulai turun sedikit demi sedikit.

"Minta jemput pacar kamu donk kalo sopirnya gak bisa"katanya.
Aku tertawa.
"Aku gak punya pacar" ujarku.
"Masa?? waktu itu aku baca katanya sama Dani the rider itu"
"Putus"ujarku
"Oh.. Lagian dia terlalu kecil buat kamu"
"Hahaha, jangan gitu donk..gitu-gitu dia baik banget lho" kataku.
"Iya.. iya maaf.. trus kenapa putus kalo dia baik?"
"Hebat yah kamu, kita baru ketemu tapi kamu udah tanya-tanya macem-macem"ujarku sambil tertawa.
"Hahaha, bukan gitu. ya udah maaf. ganti topik kita gak akan ngomongin masalah yang pribadi banget"
"Kamu serius banget sih. Gak apa-apa kok tapi gantian. Kamu juga cerita"
"Aku? Oke aku ceritain.Aku cerai 2 tahun yang lalu, punya dua anak, laki-laki semua dan mereka ganteng kayak bapaknya,hehehe"
"Iya percaya mereka ganteng. Mereka sama ibunya?"tanyaku
"Iya. ini aku barusan jenguk mereka. I'm single and happy"
"Hahahaha...masa sih? Waktu itu aku liat kamu di pestanya Andrea,kamu sama perempuan kok"
"Oh kamu liat aku? Aku juga liat kamu, sama pacar kamu,sebelum Dani. Gak tau siapa namanya"
"Kenapa gak nyapa aja"
"Gak enak lah.. kamu kenapa diem aja"
"Sama aja. Sekarang masih sama dia?"
"Gak, sudah putus juga. Lebih bebas gak ada perempuan. Gak ribet"
"Masa? tapi kamu gak gay kan?"
"Hahahahha.. enggak aku masih suka perempuan. Cuma belom ada yang pas lagi. Udah,sekarang gantian donk kamu cerita"
"Sama aja. Belum ketemu sama yang cocok"
"Kamu gonta-ganti terus kayaknya"
"tau darimana?"
"Aku ngikutin berita kamu lho"katanya sambil tertawa.
"Ohh..  jadi,mau foto bareng?"
"Absolutely"

Aku masih setengah percaya. David muncul tepat setelah aku memikirkannya. Tanda dari alam semesta kah? Entahlah. Tapi aku bahagia bisa melihatnya lagi.

Salju semakin deras ketika kami sampai.
"Nanti aja pulangnya. Saljunya lebat lho. Tunggu aja disini" kataku.
"Gak apa-apa?"
"Gak.. tunggu aja. Kamu mau minum atau makan tinggal ambil ya. Dapurnya disana. Aku mau ganti baju"
Dia mengangguk.

Salju masih turun ketika aku selesai mandi.
"Nonton apaan?"Tanyaku.
"Random movie. Gak apa-apa nih aku ambil popcorn, minuman..."
"Nanti billnya nyusul ya Pak" kataku. Dia tertawa.
"Inget gak kita dulu sering nonton gini dirumahku?"katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya kemudian mengangguk dan tersenyum
"Iya..zaman itu aku masih lugu banget ya"kataku.
"Gak selugu itu kok" katanya sambil tertawa.
"Kamu masih marah ya?"
"Gak..."katanya sambil menatapku.
"Kamu bahkan belom minta maaf soal itu"katanya lagi
"Aku telepon kamu berkali-kali. Kamu gak pernah jawab. Aku pikir kamu gak akan pernah maafin aku"
"Masa?"
"Aku pengen ketemu kamu. tapi takut kamu terlalu marah. tapi kemudian kamu udah punya pacar lagi,malah udah hamil. Jadi ya, aku gak nemuin kamu"
"Yes, hasil one night stand. Aku harus apa?Gak mungkin juga aku tinggalin dia"
"Ya berarti kamu juga cinta donk"
"Terus aku harus meratapi kenapa kamu making love sama orang lain gitu? bahkan kamu gak pernah serius mau minta maaf!"
"Wow.. gimana mau minta maaf kalo kamu tutup semua akses buat hubungin kamu? Lagian kamu udah hepi waktu itu. Kamu married, bentar lagi punya anak!"
Tiba-tiba tensi meninggi. Kami berdua terdiam. Tidak adil kalau hanya menyalahkan aku. Dia pu menghilang. Punya pacar baru kurang dari sebulan sejak peristiwa itu. Memang aku masih mencintainya. Bahkan sampai detik ini pun perasaan itu masih ada.

"Kayaknya aku cari hotel aja dideket-deket sini"ujarnya kemudian.
"Makasi minumannya"
Aku menatapnya. Dan aku merasa tidak ingin kehilangan dia lagi. Dia beranjak menuju pintu keluar. Dalam hati aku berkata "jangan, jangan biarkan dia pergi lagi kali ini."
"David" aku memanggilnya.
Dia berhenti dan menoleh kearahku. Aku mendekatinya. Aku tatap lekat-lekat matanya. Aku sangat menyukai matanya, hidungnya, dan bibirnya... Aku selalu berharap dapat merasakannya lagi. Kudekatkan wajahku ke wajahnya hingga desah nafasnya dapat aku rasakan.. Aku mendekatkan bibirku ke bibirnya..dan ku kecup dengan lembut. Aku menutup mataku dan mengecupnya kembali . Dia membalas ciuman itu sambil memeluk tubuhku erat.
"I love you"bisiknya disela ciuman yang panas itu.
"I love you too"
Dia kembali menciumku. Kali ni dengan lebih keras dengan gigitan lembut, hisapan dan jilatan lidahnya. Tangan kanannya memeluk pinggangku erat hingga tubuhku menempel dengan tubuhnya. David melepaskan ciumannya berusaha mencari udara disekitar telingaku. Dia menjilat lembut telingaku sehingga membuatku semakin menginginkannya. Tangannya menjelajah tubuhku, melepas ikatan piyama mandi yang aku kenakan saat itu. Dan akupun melepaskannya. Dia menatapku yang hampir tidak mengenakan apapun
".Kamu yakin mau?"
Aku mengganguk. David menciumiku lagi sambil berusaha melepaskan pakaiannya.
"Kondom?"dia bertanya
"Dikamarku"ujarku sambil terengah.
Kami bergegas menuju kamar. Aku duduk ditempat tidur memperhatikannya. Tubuhnya yang tinggi, dada yang bidang, perut yang rata, dan pinggulnya yang penuh. Dia hampir empat puluh tahun tetapi tetap seksi. 
David mendekatiku, menjilati telinga dan memberikan gigitan kecil disana. mengecup leherku. Aku mendesah ketika dia menjilati dadaku, tangannya meremas. Dia kembali menciumi bibirku dan mulai menghentakkan tubuhnya. Aku merasakan bagian dari dirinya di dalam diriku. Dia mendesah pelan berusaha membuatnya masuk lebih dalam. Aku mengerang. David mulai bergerak teratur. Aku berusaha mengimbangi setiap gerakannya. Dia mengangkat tubuhku. Membiarkan aku diatas tubuhnya dan mengendalikannya. Kami duduk berhadapan. Aku merasakan nafasnya yang semakin cepat seiring dengan gerakannya. Aku merasakan getaran hebat diseluruh tubuhku. Aku mengerang sambil memeluknya. David mempercepat gerakannya dan akhirnya dia medesah panjang.

"Fantastis"ujarnya sambil merebahkan dirinya.  Dia menatap kearahku dan bertanya
"Gak terasa seperti itu, ya?"
"Itu terasa berbeda"jawabku sambil menutupi diriku dengan selimut.
"Maksudnya?"
"Ya... lebih emosional"
Dia membelai rambutku
"Beda dari sex sebelum-sebelumnya.Banyak perasaan. Kangen, marah, cinta... Seperti mendapatkan sesuatu yang berharga yang pernah hilang"
"Ini buakn cuma sekedar sex, kan?" tanyaku.
Dia menggeleng.
"One night stand?"
Dia tertawa
"Aku laki-laki paling bodoh kalo ngelakuin itu"
"Bukan... Ini lebih dari itu. I love you. Bahkan ketika kamu gak ada"ujarnya.
"Rayuan lainnya?"
"Gak... kamu kan bukan ABG lagi. udah bisa kan bedain mana yang tulus dan yang palsu"
"Gak tau.."
"Terus apa yang kamu rasain sekarang?"
Aku menatapnya lama
"I love you too, David"
Dia mengecupku.
"Jadi,kenapa kita gak melakukannya lagi?"
Aku tertawa.