Cari Blog Ini

Sabtu, 24 April 2010

POTONGAN

Ruangan itu hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis seorang wanita. Mereka berdua, laki-laki dan perempuan itu duduk bersimpuh di lantai. Tanpa pakaian. Telanjang. Mereka tidak tau apa yang terjadi diluar sana. Yang mereka tau hanya keheningan ruangan dan cahaya  lampu temaram yang semakin membuat keadaan bertambah buruk.
Perempuan itu menangis. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Tidak ada kata-kata, hanya isakan dan air mata yang mengalir deras. Sementara laki-laki itu juga diam. Dia tidak bergerak dan tidak berkata-kata. Wajahnya pun basah. Entah karena keringat atau air matanya.

Setahun yang lalu..
"Sudah siang, sebaiknya kita bersiap. Mereka sudah menunggu" laki-laki itu berkata dengan lembut.
Perempuan itu hanya menatapnya sambil tersenyum. 
"Aku mandi dulu" kata laki-laki itu sambil bergegas menuju kamar mandi.
Sementara perempuan itu membereskan pakaian mereka. Membersihkan bekas-bekas mereka. Membuangnya ke tempat sampah.
Begitulah mereka. Dua orang yang kehilangan arah kehidupan yang dipertemukan. Yang akhirnya membawa mereka menjadi liar. Entah suah berapa kali mereka bertemu hanya untuk satu tujuan. Saling memuaskan. Laki-laki itu membutuhkan tubuh perempuan, dan perempuan itu menbutuhkan laki-laki untuk menjadi tempatnya bersandar. Dua makhluk dengan kebutuhan yang hampir sama.
Hari ini laki-laki itu akan membawanya ke rumah orang tua si lelaki. Perkenalan,katanya. Nanti jika orang tuaku setuju aku akan ke rumahmu. Bicara pada orang tuamu, dan kita menikah tahun ini. Aku sudah lelah dengan semuanya. Aku ingin menikah. Begitulah kata laki-laki itu. Perempuan itu kaget. Ini bukan laki-laki yang ia kenal. Ia pun bertanya apakah laki-laki yakin dengan keputusannya ini? Laki-laki itu menjawab dengan keyakinannya bahwa apapun yang akan dijalaninya selama ia memiliki niat baik ia yakin akan menjadikan hidupnya lebih baik. Perempuan itupun bahagia mendengar ucapannya. Ia yakin bahwa laki-laki ini mampu membuat dirinya bahagia.
"aku sudah selesai, cepatlah mandi,kita sudah ditunggu" suara laki-laki itu membuyarkan kilasan masa lalu yang sempat melintasi benak perempuan itu.
Ia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri. Berpakaian sebaik mungkin. Dan mereka pergi.
Semua berjalan lancar. Selang beberapa minggu kemudian si lelaki benar-benar mengunjungi rumah perempuan itu. Kedua orang tua si perempuan merestui hubungan itu. Mereka melanjutkan rencana pernikahan mereka. Tetapi satu hal yang tidak berubah, laki-laki itu tetap tidak berhenti menikmati tubuhnya walapun ia sudah berulang kali mengatakan ingin berhenti.
Suatu ketika laki-laki itu bicara pada si perempuan. 
"Aku ingin berpisah dulu. Aku tidak ingin melakukan itu lagi. Kalau kamu masih berada didekatku keinginan itu selalu muncul. Jadi aku ingin kita berpisah.
"Tapi tidak harus berpisah kan? kita bisa mencobanya dari awal. Berhubungan normal seperti orang-orang" perempuan itu mencoba tegar.
"Bukan cuma itu.. Aku merasa aku tidak mencintaimu. Aku hanya menyayangimu. Dan aku tidak bisa menikah tanpa cinta"
Perempuan itu terkejut. Dia merasa separuh jiwanya melayang entah kemana. Dia merasa kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Dia melayang. Namun ia masih mencoba meyakinkan laki-laki itu bahwa mereka bisa memulai lagi dari awal. Tetapi, laki-laki itu tetap pada pendiriannya.
Sejak itu, si perempuan tidak pernah terlihat normal. Dia sering menerawang. Dia kehilangan jiwanya.
Sampai akhirnya perempuan itu tidak dapat lagi menahan emosinya. Dia marah. Dia mengungkapkan semua kekecewaannya kepada lelaki itu. Lelaki itu jengah. Dia berkata tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan, semuanya cuma masalah moral. Supaya perempuan itu dianggap wanita baik-baik.
Perempuan itu berusaha menahan tangisnya. Hatinya semakin hancur. Dan dia semakin melayang. 
Kini ia lebih suka diam. Sendiri. mengabiskan waktunya bersama air mata. Lain waktu ia tertawa-tawa. Menggoda setiap laki-laki. Lalu diam dan menangis lagi.
Perempuan itu semakin terlihat tidak normal. Dia semakin terlihat melayang. Dia merasa tidak dihargai. Dia membenci dirinya yang telah rela membiarkan tubuhnya dinikmati laki-laki yang kini menghancurkan hidupnya. Dia membenci hidupnya. Dan dia sangat membenci laki-laki itu.
Suatu saat si perempuan kehilangan kendali. Dia kembali marah. Kali ini dia meminta laki-laki itu mati saja. Laki-laki itu berbalik marah. Mereka berdua kesetanan. Saling memaki. Saling marah. Sampai si lelaki akhirnya mengalah dan berkata,"Baik aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab. Tapi tidak sekarang. Tiga tahun lagi. Kita menikah. Lalu kita bercerai."
Perempuan itu semakin marah.
"Aku tidak butuh tanggung jawabmu sekarang! Aku ingin kamu mati!"
"Lama-lama aku juga mati!"
"Sekarang!"
"Aku ingin bertemu!"

Dan sekarang di sinilah mereka. Tempat pertama kali mereka bercinta. Duduk bersimpuh. Telanjang. Perempuan itu memegang pisau ditangannya.
"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu" Kata laki-laki itu
Perempuan itu masih tetap menangis.
"Aku akan membiarkanmu pergi, tetapi aku ingin meminta satu hal darimu" Jawab perempuan itu disela-sela tangisnya.
"Apa?"
"Aku ingin penismu satu inci saja.. aku yakin itu dapat mengobati semuanya"
"Aku akan menikahimu..........."
Kata-kata lelaki itu terpotong. Si perempuan telah memotong kelaminnya. Perempuan itu mengambil potongannya. Mengamatinya, lalu tersenyum kepada si lelaki. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit pada dadanya. Sesuatu telah menancap tepat dijantungnya. Ia melihat pisaunya di sana. Laki-laki itu juga tersenyum. Lalu gelap..............


Selasa, 20 April 2010

ANTARA TULANG RUSUK DAN SELANGKANGAN

Pernah mendengar ungkapan ini? "Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria,
bukan dari kepalanya untuk menjadi atasan,
bukan pula dari kaki untuk dijadikan alas,
melainkan dari sisinya (tulang rusuk) untuk menjadi mitra sederajat
dekat pada lengannya tuk dilindungi.
dan dekat dihatinya tuk dicintai"
Indah sekali. Penuh makna. Saya yakin jika wanita membaca tulisan itu mereka akan tersenyum 24 jam kepada kalian laki-laki.
Kadang-kadang saya berpikir bahwa ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Saya berpikir laki-laki hanya menganggap perempuan terbuat dari tulang selangkangan mereka. Tidak semuanya tentu saja. Saya juga sadar bahwa hal itu juga bukan hanya kesalahan laki-laki saja. Kaang-kadang perempuan juga melakukan hal-hal yang membuat laki-laki berpikir seperti itu. 
Tapi coba perpikir ketika laki-laki sudah membicarakan cinta dan pernikahan. Kebanyakan perempuan akan terhipnotis oleh kata-kata itu. Rela memberikan apa saja. Yah, bodoh memang. Perempuan bodoh dan laki-laki yang terlalu pintar memanfaatkan situasi.
Mencintai, melindungi, menjaga. Kadang sangat sulit dilakukan oleh sebagian lelaki. Bahkan ada beberapa yang katanya ingin mencintai, melindungi, dan menjaga namun mereka malah menghancurkan hidup wanita. Mungkin mereka tidak mengerti atau belum mengerti apa maksud dari mencintai,melindungi dan menjaga. Atau mereka tidak tau caranya. Mencintai bukan berarti kalian harus meniduri wanita. Melindungi dan menjaga tidak berarti harus meniduri berulang-ulang supaya mereka tidak lari ke laki-laki lain. Berpikirlah bahwa kami, perempuan, tidak ingin dicintai karena seks semata. Bahwa kami memiliki hati dan perasaan sama seperti kalian. Kami ingin dihargai. Dengan seks kalian hanya memperlakukan kami seperti bagian dari tulang selangkangan kalian. Bukan tulang rusuk seperti yang banyak disebutkan.Mengertilah bahwa kami bukan hanya sekedar tempat kalian membuang sperma-sperma kalian.
Kami atau tepatnya saya ingin dicintai atau jika kalian tidak memiliki cinta saya ingin dihargai seperti kalian menghargai diri kalian. Tolong jangan manfaatkan jiwa saya yang rapuh untuk kesenangan diri kalian sendiri. Saya rapuh, itulah mengapa saya menginginkan kamu ada. Bukan sebagai patner seks saya. Saya ingin kamu menjadi pemimpin bagi saya... 
Pada akhirnya saya sadar, Tuhan tidak menciptakan perempuan serendah itu. Bahkan perempuan sangat dimuliakan. Tolong jangan perlakukan saya seperti bagian dari tulang selangkanganmu. Saya rapuh, sangat rapuh. Saya membutuhkanmu sebagai pelindung saya.

Jumat, 09 April 2010

KETIKA KEJANTANAN DIPERTANYAKAN

Saya tidak akan menulis tentang kejantanan laki-laki di atas ranjang. Soal itu setiap orang punya imajinasi sendiri-sendiri. Bukan tentang itu. Tapi lebih kepada perilaku laki-laki itu sendiri. Dari sudut pandang saya yang mungkin masih terlalu sempit.
Laki-laki. Dengan berbagai bentuk dan ukuran Jangan berpikir aneh-aneh dulu. Saya membicarakan bentuk dan ukuran perilaku laki-laki. Dalam hal ini kejantanan sering dikaitkan dengan rasa tanggung jawab. Saya sebenarnya membenci kata-kata itu. Tapi buat apa membencinya. Toh kata-kata itu tidak salah ada di dunia dan sering diucapkan. Salahkan orang yang menciptakan kata-kata itu. Tidak! Bukan itu juga.Tidak ada yang salah. Yang salah hanya cara berpikir saya. Sudut pandang saya yang harus saya ubah.
Menurut saya semua orang, laki-laki tentu saja karena saya sedang menulis tenang kejantanan, dilahirkan dengan membawa sifat tanggung jawab. Hanya saja realisasi ke dalam perbuatan yang membedakannya. Seperti yang saya tuliskan di atas, bentuk dan ukurannya saja yang berbeda. Ada yang karena rasa tanggung jawabnya, dia tidak akan melakukan sesuatu yang beresiko bagi dirinya dan orang lain sampai waktunya tiba. Seperti menjadi indah pada waktunya. Contohnya laki-laki yang tidak mau berbuat aneh-aneh seperti tidak menyentuh pacarnya terlebih dahulu sebelum menikahinya. Laki-laki jenis ini yang mungkin banyak disukai wanita. Karena jenis ini tidak akan melakukan hal-ha yang tidak sanggunp mereka pertanggungjawabkan. Ini jenis pertama.
Jenis kedua yang langsung bertanggung jawab terhadap apa yang mereka perbuat. Tanpa berpikir dampak ke depan dan hal-hal lain. Yang penting bertanggung jawab. Mereka berbuat yang sesuai dengan apa yang diinginkan atau dibutuhkan pada saat itu.Tidak peduli apakah mereka sanggup atau tidak. Yang penting tanggung jawab. Contohnya kita samakan saja kasusnya, pacar hamil. Maka laki-laki jenis ini akan segera menikahi pacarnya. Tidak peduli dia sanggup menjadi suami dan ayah yang baik atau tidak yang jelas dia langsung menikahi. Tidak peduli berakhir lebih buruk. Karena yang dibutuhkan saat itu adalah menikah. Saya tidak tau apakah jenis ini disukai wanita atau tidak. Tapi kehadiran laki-laki tipe ini sangat dibutuhkan pada saat-saat tertentu.
Yang ketiga adalah jenis yang berpikir dan mempersiapkan semuanya sebelum bertanggung jawab. Bedakan jenis ini dengan jenis yang pertama. Jenis yang pertama tidak akan melakukan sesuatu yang beresiko sementara jenis ini suka mengambil resiko namun masalah tanggung jawabnya mereka akan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Jadi tidak langsung pada pertanggungjawaban tetapi ke hal-hal lain yang mungkin harus diperbuat untuk menunjang pertanggungjawabannya. Misalnya pacar sang laki-laki hamil, Dia tidak langsung menikahi wanitanya,tetapi mempersiapkan diri menjadi sosok seorang suami dan ayah yang baik dulu. Dan setelah dirasa cukup siap baru dia akan menikahi pacarnya. Agak sulit memang menerima tindakan laki-laki jenis ketiga ini. Tapi seperti yang saya bilang tadi, saya akan mencoba mengubah sudut pandang dan cara perpikir saya dari sisi jenis ini. Mungkin dia tidak ingin mengecewakan calon istri dan bayinya sehingga ia perlu mempersiapkan diri dulu. Dia tidak ingin setengah-setengah dalam bertanggung jawab. Meskipun awalnya pasti sulit diterima oleh sang pacar. Namun sebenarnya mungkin mereka hanya ingin semuanya indah, sempurna dan bahagia selamanya. Mungkin. Bagi saya sendiri sulit sekali menerima si jenis  ketiga ini. Apalagi kasusnya hamil,semoga saja tidak terjadi pada kita. Namun kalau saja kita mau memahaminya lebih mudah untuk menerimanya.
Apapun bentuk dan ukurannya, pada dasarnya semua laki-laki bertanggung jawab. Mereka semua sebenarnya ingin membahagiakan. Seperti yang saya bilang tadi, kita hanya perlu mengubah sedikit sudut pandang kita.
Dan yang paling dibutuhkan hanya sedikit memaafkan, sedikit keikhlasan, dan sedikit memahami sudut pandang dan cara berpikir mereka.

Selasa, 06 April 2010

SAYA SEKARANG

Sekarang saya kumat lagi... Malah lebih parah. Sekarang bawaannya pengen mati. 
Ini dimulai ketika hidup saya yang sudah saya anggap lumayan perfect itu terusik dengan kehadiran seseorang. memang dia tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Tapi seseorang itu punya andil besar dalam penghancuran hidup saya.
Awalnya saya suka sifatnya. Dia jujur. Tidak pernah pura-pura. Selalu mengatakan apa yang dia rasakan. Itu awal mula ketertarikan saya. Dan awal dari kesalahan terbesar dalam hidup saya.
Dan sekarang kesalahan itu sudah bertambah besar dan banyak. Saya bingung harus mulai dari mana untuk memperbaiki kesalahan yang sudah besar itu. Dan jadilah saya seperti sekarang. Mulai mengidap siklotimik, Gangguan mood yang melibatkan dua perasaan yang bertolak belakang, manic (perasaan senang berlebih) dan depresi (perasaan sedih berlebih). Lebih ringan dari bipolar disorder. Tapi mungkin lama-lama saya juga bisa jadi bipolar disorder. Atau gangguan jiwa lain? Entahlah. Saya belum menemukan yang lebih cocok daripada penyakit itu. 
Tapi siapa yang peduli. Bahkan saya juga tidak peduli. Terserah. I don't care! Yeah!!!!!
Entah sekarang manic atau depresi. Yang jelas saya siappppppppppppppppp menghadapi apapun!!!!!

SAYA KECIL

Saya merasa ada yang tidak beres dengan diri saya. Aneh. Tidak wajar. Tapi saya tidak tau apa. Saya berusaha mencari jawaban,tapi tidak pernah saya temukan.
Darimana harus dimulai? Tentang keanehan2 yang ada pada diri saya. Mungkin masa kecil saya. Masa kecil saya bahagia. Orang tua saya menyayangi saya. Walaupun tidak dimanja dengan barang-barang bagus atau sesuatu yang mewah. Mereka selalu berusaha memenuhi kebutuhan saya. Dan saya memang tumbuh sebagai anak yang tidak banyak menuntut kepada orang tua saya karena saya tau keadaan mereka. Yang aneh ketika saya kecil adalah saya tidak suka -tidak terlalu suka- bergaul dengan teman-teman sebaya saya. Saya lebih suka sendiri. Dengan teman-teman yang saya ciptakan sendiri. Dunia saya sendiri. Dan saya bahagia. Saya tidak tau sebabnya. Mungkin kecewa dengan teman2 real yang kadang2 menyakiti saya. Tapi saya juga tidak pernah merasa disakiti. Saya hanya tidak suka. Mungkin karena saya kurang pede untuk bergaul degan mereka. Kenapa? Saya tidak tau! Dan saya suka kesendirian. Saya suka dengan dunia saya sendiri. 
Tapi akhirnya pelan-pelan saya mulai membuka diri. Dan mulai bergaul dengan teman-teman dari dunia nyata. Tapi tidak menghilangkan dunia saya sendiri. Tapi akhirnya sejalan dengan waktu dan kesibukan saya teman-teman khayalan saya mulai terlupakan. Dan akhirnya hilang. Sampai akhirnya saya menonton sebuah film yang bercerita tentang teman khayalan. Saya baru menyadari bahwa saya sama seperti itu. Dan menyadari bahwa saya aneh.
Tapi setelah itu saya menjadi orang normal -tepatnya sempat menjadi oarng normal-. Kadang-kadang memang masih suka menyendiri. Dan menikmati dunia saya sendiri. Ketika itu kehidupan saya berada pada puncak kenikmatan. Mungkin lebih tepatnya saya merasa hampir sempurna. Saya diterima di sekolah kedinasan bergengsi. Punya pacar (walaupun LDR). Tapi saya merasa hidup saya mendekati sempurna. Sampai akhirnya tibalah saat yang membuat hidup saya kembali pada posisi tidak normal....