Ruangan itu hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis seorang wanita. Mereka berdua, laki-laki dan perempuan itu duduk bersimpuh di lantai. Tanpa pakaian. Telanjang. Mereka tidak tau apa yang terjadi diluar sana. Yang mereka tau hanya keheningan ruangan dan cahaya lampu temaram yang semakin membuat keadaan bertambah buruk.
Perempuan itu menangis. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Tidak ada kata-kata, hanya isakan dan air mata yang mengalir deras. Sementara laki-laki itu juga diam. Dia tidak bergerak dan tidak berkata-kata. Wajahnya pun basah. Entah karena keringat atau air matanya.
Setahun yang lalu..
"Sudah siang, sebaiknya kita bersiap. Mereka sudah menunggu" laki-laki itu berkata dengan lembut.
Perempuan itu hanya menatapnya sambil tersenyum.
"Aku mandi dulu" kata laki-laki itu sambil bergegas menuju kamar mandi.
Sementara perempuan itu membereskan pakaian mereka. Membersihkan bekas-bekas mereka. Membuangnya ke tempat sampah.
Begitulah mereka. Dua orang yang kehilangan arah kehidupan yang dipertemukan. Yang akhirnya membawa mereka menjadi liar. Entah suah berapa kali mereka bertemu hanya untuk satu tujuan. Saling memuaskan. Laki-laki itu membutuhkan tubuh perempuan, dan perempuan itu menbutuhkan laki-laki untuk menjadi tempatnya bersandar. Dua makhluk dengan kebutuhan yang hampir sama.
Hari ini laki-laki itu akan membawanya ke rumah orang tua si lelaki. Perkenalan,katanya. Nanti jika orang tuaku setuju aku akan ke rumahmu. Bicara pada orang tuamu, dan kita menikah tahun ini. Aku sudah lelah dengan semuanya. Aku ingin menikah. Begitulah kata laki-laki itu. Perempuan itu kaget. Ini bukan laki-laki yang ia kenal. Ia pun bertanya apakah laki-laki yakin dengan keputusannya ini? Laki-laki itu menjawab dengan keyakinannya bahwa apapun yang akan dijalaninya selama ia memiliki niat baik ia yakin akan menjadikan hidupnya lebih baik. Perempuan itupun bahagia mendengar ucapannya. Ia yakin bahwa laki-laki ini mampu membuat dirinya bahagia.
"aku sudah selesai, cepatlah mandi,kita sudah ditunggu" suara laki-laki itu membuyarkan kilasan masa lalu yang sempat melintasi benak perempuan itu.
Ia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri. Berpakaian sebaik mungkin. Dan mereka pergi.
Semua berjalan lancar. Selang beberapa minggu kemudian si lelaki benar-benar mengunjungi rumah perempuan itu. Kedua orang tua si perempuan merestui hubungan itu. Mereka melanjutkan rencana pernikahan mereka. Tetapi satu hal yang tidak berubah, laki-laki itu tetap tidak berhenti menikmati tubuhnya walapun ia sudah berulang kali mengatakan ingin berhenti.
Suatu ketika laki-laki itu bicara pada si perempuan.
"Aku ingin berpisah dulu. Aku tidak ingin melakukan itu lagi. Kalau kamu masih berada didekatku keinginan itu selalu muncul. Jadi aku ingin kita berpisah.
"Tapi tidak harus berpisah kan? kita bisa mencobanya dari awal. Berhubungan normal seperti orang-orang" perempuan itu mencoba tegar.
"Bukan cuma itu.. Aku merasa aku tidak mencintaimu. Aku hanya menyayangimu. Dan aku tidak bisa menikah tanpa cinta"
Perempuan itu terkejut. Dia merasa separuh jiwanya melayang entah kemana. Dia merasa kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Dia melayang. Namun ia masih mencoba meyakinkan laki-laki itu bahwa mereka bisa memulai lagi dari awal. Tetapi, laki-laki itu tetap pada pendiriannya.
Sejak itu, si perempuan tidak pernah terlihat normal. Dia sering menerawang. Dia kehilangan jiwanya.
Sampai akhirnya perempuan itu tidak dapat lagi menahan emosinya. Dia marah. Dia mengungkapkan semua kekecewaannya kepada lelaki itu. Lelaki itu jengah. Dia berkata tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan, semuanya cuma masalah moral. Supaya perempuan itu dianggap wanita baik-baik.
Perempuan itu berusaha menahan tangisnya. Hatinya semakin hancur. Dan dia semakin melayang.
Kini ia lebih suka diam. Sendiri. mengabiskan waktunya bersama air mata. Lain waktu ia tertawa-tawa. Menggoda setiap laki-laki. Lalu diam dan menangis lagi.
Perempuan itu semakin terlihat tidak normal. Dia semakin terlihat melayang. Dia merasa tidak dihargai. Dia membenci dirinya yang telah rela membiarkan tubuhnya dinikmati laki-laki yang kini menghancurkan hidupnya. Dia membenci hidupnya. Dan dia sangat membenci laki-laki itu.
Suatu saat si perempuan kehilangan kendali. Dia kembali marah. Kali ini dia meminta laki-laki itu mati saja. Laki-laki itu berbalik marah. Mereka berdua kesetanan. Saling memaki. Saling marah. Sampai si lelaki akhirnya mengalah dan berkata,"Baik aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab. Tapi tidak sekarang. Tiga tahun lagi. Kita menikah. Lalu kita bercerai."
Perempuan itu semakin marah.
"Aku tidak butuh tanggung jawabmu sekarang! Aku ingin kamu mati!"
"Lama-lama aku juga mati!"
"Sekarang!"
"Aku ingin bertemu!"
Dan sekarang di sinilah mereka. Tempat pertama kali mereka bercinta. Duduk bersimpuh. Telanjang. Perempuan itu memegang pisau ditangannya.
"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu" Kata laki-laki itu
Perempuan itu masih tetap menangis.
"Aku akan membiarkanmu pergi, tetapi aku ingin meminta satu hal darimu" Jawab perempuan itu disela-sela tangisnya.
"Apa?"
"Aku ingin penismu satu inci saja.. aku yakin itu dapat mengobati semuanya"
"Aku akan menikahimu..........."
Kata-kata lelaki itu terpotong. Si perempuan telah memotong kelaminnya. Perempuan itu mengambil potongannya. Mengamatinya, lalu tersenyum kepada si lelaki. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit pada dadanya. Sesuatu telah menancap tepat dijantungnya. Ia melihat pisaunya di sana. Laki-laki itu juga tersenyum. Lalu gelap..............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar