Aku menatap pusara itu untuk yang terakhir kalinya. Ingatanku kembali lagi kemasa itu,saat pertama kali aku mengenalnya. Dia gadis yang baik, periang, dan penuh semangat. Sementara aku hidup dalam kegelisahan dan ketiakpastian. Aku tiak pernah menyangka semuanya berakhir seperti ini. Dia yang selalu menemaniku saat itu, memberiku semangat, selalu mendengarkan keluh kesahku. Yah, dia yang kini tak bisa lagi aku lihat.
*
Aku terbangun. Sesaat aku lupa dimana aku berada. Aku menoleh disampingku, entah perempuan mana lagi yang sudah aku tidurin tadi malam. Lambat-lambat aku mengingatnya. Semalam aku pergi bersama Tommy,temanku. Pesta-pesta yang berakhir dengan tidur dengan perempuan itu. Aku bergegas membersihkan diri. Sejak aku kembali ke kota ini keadaan justru bertambah buruk. Aku tak juga mendapatkan pekerjaan sementara aku merasa kedua orang tuaku seperti memusuhiku. Dan inilah pelarianku. Hampir setiap malam aku selalu begini.
Aku menghampiri Tommy diruang tamunya.
"Tom anterin gw pulang ya"
"Eh bangun juga akhirnya. Yang lain udah pada pulang. Kecapekan ya?tuh HP lo bunyi terus dari tadi. Nyokap lo kali"
Aku melihat ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab.
"Siapa? Pacar lo ya?"
"Bukan. temen aja"
"Kayaknya care banget ma lo"
Aku tersenyum. Dia memang selalu memperhatikan aku, ujarku dalam hati.
"Udah sikat aja:
"Emang WC disikat. Udahlah anterin gw dulu" ujarku sambil menyeretnya.
Handphoneku berdering lagi. Pesan masuk dari dia,orang yang sama yang meningalkan banyak pesan dan panggilan semalam.
"Lo ga aneh-aneh lagi kan" begitu pesannya.
"Udahlah di... gak usah peduliin gw lagi"
"Lo kenapa?"
"Gak apa-apa"
"kalo lo gitu terus kapan mau punya hidup lebih baik?lo bilang mau lebih baik tapi tetep aja lakuin hal yang sama"
"Gw pusing.udahlah"
"Semakin lo gitu semakin lo pusing.Katanya senin mau test buat kerja,kenapa gak siap-siap bukannya party-party gitu"
Aku tidak menjawab pesannya. Sebenarnya memang itulah yang aku takutkan. Test itu. Dua minggu lagi test kesehatan dan aku tidak yakin dengan kesehatanku sendiri. Gaya hidupku yang tidak karuan membuatku takut terkena penyakit. Berulang kali dia meyakinkanku semua baik-baik saja. Dia memintaku tes kesehatan tapi aku tidak berani menghadapi kenyataan seandainya yang aku takutkan benar-benar terjadi. Melamar pekerjaan ini pun sebenarnya aku pesimis. Dialah yang selalu memberiku semangat sampai aku dapat bertahan hingga tes terakhir. Pernah terbesit dipikiranku untuk menjadikannya istri. Tapi aku tepis pikiran itu. Jujur saja, dia bukan tipe perempuan seperti yang aku cari. Dia berpenampilan biasa-biasa saja.
"Udah sampai bro,melamun aja. Kata gw juga apa,sikat!" Tommy membuyarkan lamunanku.
"Udahlah. Makasih bro. Besok kalo lo ada acara lagi jangan lupa ma gw ya"
Tommy hanya tertawa.
"Eri!'
Baru saja aku melangkahkan kakiku di ruang tamu, ayahku sudah berteriak memanggilku.
"ya"
"Dari mana?? Kamu anak laki-laki tapi gak bisa kasih contoh buat adik-adikmu! Pulang pagi, kerjaan gak ada, mau jadi apa kamu? kalo ayah sama ibu mati kamu gak bisa apa-apa! bahkan buat hidup kamu sendiri!"
Kepalaku bertambah sakit mendengar ayah dan ibuku begantian menceramahiku. Yah aku tau aku salah. Aku ingin hidup normal seperti orang-orang. Tapi aku tidak tau harus mulai dari mana. Terlalu banyak kesalahan sehingga aku takut menghadapi hidup.
"Jangan gitu lagi ya... please..pikirin keluarga lo" pesan dari dia. Memang cuma dia yang masih memperhatikan aku. Dia yang meyakinkan aku semuanya baik-baik saja tapi aku terus menyangkalnya.
Malam itu aku mimpi buruk. Semua yang aku takutkan benar2 terjadi. Aku terkena HIV. Mengerikan. Aku terbangun.tapi bayang-bayang mimpi itu masih terasa. Aku benar-benar ketakutan setengah mati. Aku teringat semua kesalahan-kesalahan yang aku buat. Aku tidak kuat menahan semuanya. Dia, ya aku meneleponnya ditengah malam buta
"Di, gw takut..gimana kalo w bener-bener keha HIV..gimana keluarga gw,gw takut di.." aku terisak.
"Gak ri... Tuhan pasti maafin kita kalo kita bener-bener pengen berubah.. Gw temenin lo.."
"kalo gw kena gimana?
"Gw temenin lo"
"gak bisa Di..gw gak kuat"
"Gw tetep sayang lo"
Aku tutup teleponku.Sayang?aku bingung mendengar kata-kata itu. Aku tidak pernah menggangapnya lebih dari sekedar teman. Tapi memang aku sangat bergantung padanya. Aku membutuhkannya tapi aku rasa aku tidak mencintainya. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku belajar untuk mencintainya. Dia selalu menerimaku dan aku sangat membutuhkannya. Mungkin cinta lama-lama bisa datang. Yah siapa tau.. Malam itu aku berniat ingin menikahinya saja jika aku terbukti tidak positif HIV dan lulus tes bekerja.
Pagi itu aku menghubunginya
"Di, anterin gw tes yuk"
"Kapan?"
"Besok bisa gak?"
"Bisa. Jam berapa?"
"Pagi. Tapi beneran ya. Gw takut di.."
"Iya. Udah ga apa-apa. Gw yakin lo sehat"
"Yakin ya Di.. Di,ntar klo gw sehat trus gw keterima kerja gw mau nikahin lo"
"Hahahahaha.. bukan lo banget"
"Serius Di.. emang gw gak cinta ma lo,tapi gw butuh lo"
"Hahahaha.."
"Kok ketawa?"
"Ya udah yang penting tes dulu aja ya"
Benar, hasil tes HIV ku negatif. Satu minggu setelah itu pengumuman tes lamaran pekerjaanku. Dan aku lulus.
Aku langsung menghubunginya.
"Di gw lulus tes"
"Syukurlah... selamat ya"
"Trus gimana di?"
"Apanya?"
"lo mau ga?"
"Apa?"
"Nikah ma gw lah"
"Hahahaha,lo serius?"
"Iya"
"Buktiin."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar