Cinta. Setiap orang pasti kenal kata-kata yang satu ini. Bahkan kita ada di dunia ini juga salah satunya karena cinta (kecuali untuk beberapa kasus). Cinta sebenarnya punya makna yang luas. Tidak melulu soal hubungan lawan jenis (karena banyak juga ternyata yang punya hubungan dengan sesama jenis). Bukan itu yang dimaksud. Kita juga pastinya mencintai kedua orang tua kita, saudara-saudara kita, teman-teman dan yang lainnya. Kita sudah memiliki cinta sejak kita lahir. Tapi ketika kita jatuh cinta pada pasangan kita, kita merasakan sesuatu yang lain. Cinta yang seperti ini yang kan kita bahas.
Pernah jatuh cinta? Kebanyakan orang pasti menjawab sudah. Tapi pernahkah kita mencintai atau dicintai dengan tulus? Seperti apa cinta yang tulus itu? Saya baru saja mendapatkan pengalaman tentang kedua hal tersebut.
Mencintai dengan setulus hati. Wah seperti lirik lagu yang digandrungi anak-anak remaja. Tapi sebenarnya berat sekali melakukannya. Mencintai dengan tulus berarti kita tidak meminta balasan apapun. Tulus. Terserah yang kita cintai itu membalas cinta atau jangan-jangan malah malas melihat muka kita. Tulus. Berarti menerima semua kekurangan-kekurangan pasangan kita. Dua hal yang penting dalam tulus. Tidak meminta dan menerima. Dalam kenyataannya, pada yang saya alami sulit sekali menerapkannya. Butuh waktu yang begitu lama. Proses yang panjang dan melelahkan. Saya tidak percaya dengan ungkapan love at the first sight. Buat saya itu cuma gairah sesaat. Cinta bukan cuma soal getaran-getaran aneh. Tapi bagaimana kita memberi yang terbaik dan menerima setiap kekurangan pasangan. Toh getaran-getaran itu lama-lama akan hilang. Kalau modal mencintai kita cuma getaran lalu ketika getarannya hilang cintanya pun hilang.
Cinta harus ditempa. Diuji. Dari setiap ujian itulah kita tahu apakah cinta kita tulus atau tidak. Dari ujian itu kita tau seberapa kuat cinta kita. Biasanya kalau kita benar-benar tulus ujian sehebat apapun tidak akan mengurangi rasa cinta yang kita punya. Namun kadang ketika kita sudah bersusah payah mempertahankan cinta itu, pasangan kita yang justru bermain-main dan tidak menghargai usaha kita. Kalau sudah begitu, lebih baik tinggalkan saja. Cinta juga harus saling menghargai. Secinta apapun kalau dia sudah tidak bisa mencintai kita, tinggalkan saja. Yakinlah bahwa diluar sana masih banyak orang yang bisa mencintai dan menghargai kita.
Lalu bagaimana kalau cinta kita tidak diuji? Lebih bagus bukan? Tidak perlu susah payah berpikir harus diapakan cinta itu. Bukan berarti juga kita harus menguji dengan bertingkah polah aneh. Jika menemukan seseorang yang kita pikir dan kita rasakan ia mencintai kita, bisa menerima kita, dan bisa menghargai kita berarti kita sudah bertemu dengan orang yang istimewa. Maka perlakukanlah ia dengan istimewa pula.
Jadi menurut saya cinta itu tidak datang dengan tiba-tiba. Tapi melalui sebuah proses panjang.
*dedicated to my hubby...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar